Suatu hari aku sedang kerja jaga klinik 24 jam. Hari itu hari kedua dari 2 hari jagaku di sebuah klinik di daerah Tangerang. Setelah di hari pertama, aku tidak dapat tidur karena banyaknya pasien, hari keduaku itu merupakan hari yang berat sekali, namun tetap berusaha menjalankannya sebaik2baiknya...
Sekitar jam setengah 2 malam (dini hari), di saat baru akan terlelap aku dibangunkan oleh perawatku karena ada pasien...
Hmm... cukup menjengkelkan awalnya, ternyata tuh pasien datang dini hari gitu karena masalah yang tidak emergency sekali. karena ternyata masalahnya adalah
liken simpleks kronis. Yah, kalo penyakit kulit gitu knapa ga siang2 aja siy datangnya saat pasien lagi ga ada dan aku gak ngantuk, gerutuku waktu itu dalam hati... Uppss.. segera saja aku beristighfar dalam hati... "astaghfirullah.... hmm.. kali aja dia baru sempat ke klinik sekarang, hiburku berbaik sangka...". Trus setelah pasien itu selese aku kemudian mendapati seorang keluarga pasien yang berusaha meminta tolong dengan sedikit memaksa agar aku ikut ke rumahnya. Awalnya aku menolak, karena dikatakan oleh perawatku itu tidak boleh meskipun terserah dokter jaganya juga. Dan akupun juga cukup kelelahan, jadi aku berusaha menolak secra halus. Namun keluarga pasien itu, sebut aja BPk.X terus berusaha membujukku dan memaksa aku untuk ikut ke rumah melihat keadaan ibunya yang sedang emerjensi katanya di rumah. Dengan rasa tidak tega akhirnya aku memutuskan untukl pergi dan melihat pasien ybs.
Seperti yg dikatakan bpk.X sblmnya, memang rumahnya tidak jauh dari klinikku. Sekitar 10 mnt dengan menggunakan mobilnya aku telah sampai di rumahnya. Saat di rumahnya kudapati seorang wanita berusia 70an tahun, dengan napas satu2, dyspneu d'effort, PND, dan tidak dapat yidur berbaring karena sedemikian sesaknya. Kupikirkan ini ibu kira2 sudah ada edema paru dengan kemungkinan CHF stadium 3-4. Setelah kualloanamnesis dan ku PF, perkiraanku ternyata benar... Ibu ini riwayat DM+HT sejak 20thnan dengan kontrol yang tidak teratur, dikatakan oleh dokter sebelumnya juga bahwa ibu ini juga punya penyakit ginjal. Inalillahi.... Berat sekali keadaan ibu ini pikirku... Dan saat ku PF dengan stetoskopku ketemukan edema paru di hampir seluruh lapang paru, dan bunyi gallop, namun nadi teraba lemah namun cepat..
Saat itu yang dapat kulakukan hanyalah memberi informasi keadaan ibunya dan menyarankan untuk di rujuk. Aku tidak memberikan obat, karena dari obat yang pasien ini miliki dari RS sebelumnya udah cukup banyak dan lengkap. Namun sayangnya dari pihak keluarga enggan membawa ke RS karena ternyata sebelumnya telah 3x masuk ICu, pulang membaik paling 1 minggu kemudian keadaannya seperti itu lagi... Dan katanya saat ditanyakan ke dokter di RSnya, dokter RS tidak memberikan keterangan dengan jelas keadaan pasien tersebut... Dan pihak keluarga cukup puas mendengar penjelasanku dan berterimakasih dengan tulus... Akhirnya akupun di antar kembali ke klinik.
Sesampainya di klinik, saat bpk.X itu mau masuk klinik untuk perhitungan biaya jasa dokternya, aku menolaknya dengan halus... Tidak tega rasanya cukup dengan melihat kondisi ibunya yang sakit keras itu, dan aku kemudian meminta bayaran, dari pekerjaannku yang sekedar menolong dengan memberikan informasi kepada pasien dan keluarga yang sedang terkena musibah itu... Bpk.X pun pulang dengan ucapan terimakasih dan senyum yang tulus... Sangat bahagia hati ini melihat itu semua... Tak terasa air mata ada sedikit berlinang di mataku.. Hmmm...